[un]affair

by

3.00 · 1 ratings · Published: Sep 3rd, 2012 {{ book.ratingTitle }}
Aku diam. Kali ini dengan debar jantung yang mulai bereaksi. Kudekatkan wajahku pada rambutnya, dan aroma ginseng samar yang bercampur aroma pewangi tubuhnya terhirup seakan asap ganja yang masuk ke rongga dada. Melegakan untuk sejenak-duajenak.

Setitik air kemudian kulihat luruh di dahinya. Semula aku mengira itu adalah sisa air hujan di rambutnya. Namun ternyata bukan. Rambutnya telah kering sejak tadi, sehingga kuduga itu pastilah titik keringat yang muncul karena cuaca yang mulai berubah, tak lagi dingin.

Titik air itu bergerak ritmis bagai gerakan titik embun di helai daun. Tak bisa kupungkiri, sekian lama kedua mataku telah memilih kedua matanya, sekian lama sekat-sekat pikiranku memilih bayangannya untuk hadir, sekian lama apa pun yang ada pada dirinya menjadi sesuatu yang penting untukku.

Ini membuat gemuruh di hatiku. Terlebih saat aku mulai melihat begitu jelasnya titik air itu bergerak perlahan menuju bibir kecilnya yang tak sepenuhnya tertutup. Seperti menunjukkan.

Nafasku tertahan...

This book has not been tagged with topics yet.
Add topics


Add relevant topics

Sponsored links

Reviews

Your review · · Edit
Featured review

{{ book.individualComment.data.text }}
Please give the book a rating as well. Thank you! Post as

Community reviews

  • {{comment.user.username}} rated it {{comment.createdAt | elapsedTime}} Promote De-Promote
    Featured review
    Reply
    • {{reply.user.username}} {{reply.createdAt | elapsedTime}}
      {{reply.data.text}}
  • {{review.blogger.name}} rated it {{review.published | elapsedTime}}
  • Be the first to leave a review.
Show more reviews

You'll also like:

Add topics to the book to find similar books